Memuat...
10 November 2025 10:13

Validitas Alat Tes Viral yang Banyak Digunakan Netizen: Antara Hiburan dan Kesalahpahaman Psikologis

Bagikan artikel

Di era media sosial, tes psikologi menjadi salah satu konten viral yang mudah diakses dan dibagikan. Judul-judul seperti “Tes Kepribadian Berdasarkan Warna Favoritmu”, “Apakah Kamu Seorang Introvert Sejati?”, atau “Tes 3 Pertanyaan Ini Akan Mengungkap Trauma Masa Kecilmu” sering kali muncul di linimasa Instagram, TikTok, hingga Twitter. Dengan desain menarik dan hasil yang “relatable”, alat-alat tes semacam ini menarik jutaan pengguna hanya dalam hitungan hari. Namun pertanyaannya, seberapa valid dan ilmiah sebenarnya alat tes viral yang marak digunakan netizen?

 

Validitas adalah jantung dari setiap alat ukur psikologi. Dalam istilah sederhana, validitas menunjukkan apakah suatu tes benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Jika sebuah alat tes diklaim sebagai “tes kecemasan”, maka ia harus mampu mengukur tingkat kecemasan secara akurat. Tes yang tidak valid bisa menyesatkan, menimbulkan diagnosis diri yang keliru, atau bahkan memicu kecemasan yang tidak perlu. Sayangnya, sebagian besar tes viral yang beredar di internet tidak melalui proses validasi ilmiah.

 

Alat tes psikologi yang sah biasanya dikembangkan melalui riset panjang, uji coba statistik, dan pengujian lintas budaya. Misalnya, Big Five Personality Test atau Beck Depression Inventory telah melewati tahapan validasi, uji reliabilitas, dan revisi berulang kali selama puluhan tahun. Namun, kebanyakan tes viral tidak memiliki dasar teoretis maupun pengujian statistik. Banyak dari tes ini hanya dikembangkan oleh pembuat konten, influencer, atau website hiburan tanpa latar belakang psikologi. Akibatnya, hasil tes lebih mencerminkan opini atau stereotip sosial, bukan penilaian ilmiah.

 

Salah satu contoh populer adalah tes MBTI versi online yang sering digunakan di media sosial. Meski MBTI sendiri berasal dari kerangka teori psikologi (yakni teori tipologi Carl Jung), versi daringnya sering kali disederhanakan atau dimodifikasi tanpa izin dan tanpa uji validitas ulang. Hasilnya bisa berubah-ubah tergantung suasana hati saat mengerjakan. Bahkan menurut kritik dari ilmuwan psikologi seperti Adam Grant (2013), MBTI memiliki kelemahan dalam prediksi perilaku kerja dan tidak selalu konsisten jika diulang dalam waktu yang berdekatan. Hal ini diperburuk ketika versi daringnya tidak mencantumkan sumber, kredensial, atau metode pengukuran.

 

Tidak sedikit pula tes viral yang menggunakan pertanyaan terlalu umum dan kabur (vague), seperti “Apakah kamu sering merasa orang lain tidak memahami perasaanmu?” atau “Apakah kamu suka menyendiri di tempat ramai?” Pertanyaan semacam ini rentan menimbulkan Barnum effect dimana kecenderungan orang untuk menganggap deskripsi umum sebagai sangat akurat bagi dirinya. Fenomena ini membuat pengguna merasa “terbaca” atau “dimengerti”, padahal yang mereka baca hanyalah kalimat netral yang bisa cocok untuk siapa pun.

 

Selain validitas, aspek reliabilitas atau konsistensi juga kerap diabaikan dalam tes viral. Sebuah alat ukur psikologis seharusnya memberikan hasil yang konsisten ketika diulang dalam kondisi yang sama. Namun dalam praktiknya, banyak pengguna yang mengulang tes kepribadian online dan mendapatkan hasil berbeda hanya dalam waktu singkat. Ini menunjukkan lemahnya struktur internal tes tersebut dan ketidakandalannya sebagai alat pengambilan keputusan psikologis.

 

Namun bukan berarti seluruh tes online harus dihindari. Ada beberapa platform psikologi digital yang memang mengadaptasi alat tes psikologis berbasis sains dan menyajikannya dengan cara yang lebih mudah dipahami. Misalnya, Tes Kesehatan Mental WHO-5 (World Health Organization Well-Being Index) dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) kini tersedia dalam format digital dengan pengantar edukatif. Tes semacam ini masih memiliki validitas tinggi karena bersumber dari lembaga resmi dan dikembangkan melalui uji empirik.

 

Masyarakat juga perlu meningkatkan literasi dalam membedakan tes psikologi yang bersifat hiburan dan yang bersifat asesmen profesional. Salah satu tandanya adalah apakah tes tersebut mencantumkan siapa pengembangnya, metodologi yang digunakan, serta penjelasan tentang interpretasi hasil. Tes yang valid biasanya mencantumkan skor interpretatif dan menyarankan untuk tidak mengambil kesimpulan diagnosis tanpa konsultasi ahli.

 

Sebagai penutup, penting bagi netizen untuk bersikap kritis dalam menggunakan alat tes viral. Tidak semua yang viral itu valid, dan tidak semua yang menghibur itu aman untuk kesehatan mental. Gunakanlah tes psikologi sebagai titik awal untuk refleksi diri, bukan sebagai label mutlak. Jika dirasa perlu, hasil tes sebaiknya dijadikan bahan diskusi dengan psikolog profesional, bukan dasar untuk mendiagnosis atau menghakimi diri sendiri. Psikotes resmi HIMPSI dari biro psikologi Smile Consulting Indonesia menawarkan solusi asesmen psikologi yang valid dan dapat diandalkan, memastikan hasil yang optimal untuk berbagai keperluan Anda.

 

Referensi:

Grant, A. (2013). Goodbye to MBTI, the Fad That Won’t Die. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/articles/201309/goodbye-mbti-the-fad-won-t-die

Tavakol, M., & Dennick, R. (2011). Making sense of Cronbach’s alpha. International Journal of Medical Education, 2, 53–55. https://doi.org/10.5116/ijme.4dfb.8dfd

Furnham, A. (1996). The big five versus the big four: The relationship between the Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) and NEO-PI five factor model of personality. Personality and Individual Differences, 21(2), 303–307.

World Health Organization. (1998). Wellbeing Measures in Primary Health Care: The DepCare Project. WHO Regional Office for Europe.

Bagikan