Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang menuntut kemampuan untuk berbicara jujur, menolak permintaan, atau mengutarakan pendapat tanpa melukai orang lain. Tidak semua orang mampu melakukannya dengan seimbang. Ada yang cenderung pasif dan takut menolak, ada pula yang terlalu agresif dalam menyampaikan pikirannya. Di sinilah pentingnya memahami kemampuan asertif melalui Assertiveness Scale.
Apa Itu Assertiveness Scale?
Assertiveness Scale adalah alat tes psikologi yang digunakan untuk mengukur sejauh mana seseorang mampu menyatakan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara terbuka serta dengan cara yang tetap menghormati orang lain. Tes ini biasanya digunakan oleh psikolog, konselor, atau HR profesional untuk memahami gaya komunikasi seseorang dalam konteks sosial maupun pekerjaan.
Tes ini dikembangkan berdasarkan konsep asertivitas yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons (1970), yang mendefinisikan asertivitas sebagai kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara jujur dan langsung tanpa mengabaikan hak orang lain.
Hasil dari tes ini membantu individu mengenali apakah ia lebih cenderung pasif, asertif, atau agresif. Dengan begitu, seseorang dapat memahami cara berkomunikasi yang paling efektif untuk dirinya.
Mengapa Asertivitas Itu Penting?
Asertivitas adalah keterampilan sosial yang berpengaruh besar terhadap kesejahteraan psikologis dan hubungan interpersonal. Orang yang asertif cenderung memiliki kepercayaan diri yang sehat, mampu mengatur batas pribadi, serta tidak mudah terbebani oleh rasa bersalah saat mengatakan “tidak”.
Sebagai contoh, dalam lingkungan kerja, seseorang yang asertif mampu menyampaikan ide tanpa takut ditolak, dan juga dapat menolak tugas tambahan secara sopan bila beban kerjanya sudah penuh. Hal ini membuatnya lebih produktif dan dihargai oleh rekan kerja.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat asertivitas tinggi cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah dan kepuasan hidup lebih tinggi (Speed, Goldstein, & Goldfried, 2018). Mereka lebih mampu menghadapi konflik secara sehat karena tahu cara menyampaikan perasaan tanpa menyakiti pihak lain.
Bagaimana Bentuk Tes Assertiveness Scale?
Tes ini biasanya berbentuk kuesioner dengan sejumlah pernyataan yang menggambarkan situasi sosial tertentu. Responden diminta untuk memilih sejauh mana ia setuju atau menggambarkan dirinya pada skala tertentu.
Beberapa contoh pernyataan dalam tes antara lain:
-
Saya merasa nyaman menolak permintaan orang lain jika tidak sesuai dengan kemampuan saya.
-
Saya sering membiarkan orang lain memutuskan sesuatu untuk saya.
-
Saya dapat menyampaikan kritik tanpa merasa takut atau bersalah.
Skor dari setiap pernyataan kemudian dihitung untuk menunjukkan sejauh mana individu memiliki perilaku asertif, pasif, atau agresif.
Manfaat Mengikuti Tes Assertiveness Scale
-
Meningkatkan Kesadaran Diri
Tes ini membantu individu memahami pola komunikasi yang sering digunakan. Seseorang bisa menyadari apakah ia terlalu menahan diri atau justru terlalu dominan dalam interaksi sosial. -
Meningkatkan Keterampilan Komunikasi
Dengan mengetahui hasil tes, individu dapat belajar cara mengekspresikan diri dengan jujur namun tetap menghormati orang lain. Hal ini sangat bermanfaat dalam hubungan pribadi maupun profesional. -
Mendukung Kesehatan Mental
Orang yang mampu bersikap asertif lebih jarang mengalami stres, kecemasan, atau penyesalan setelah berinteraksi. Mereka juga lebih mudah menjalin hubungan yang sehat dan saling menghargai. -
Meningkatkan Efektivitas dalam Dunia Kerja
Dalam konteks pekerjaan, kemampuan asertif membuat seseorang dapat mengelola konflik dengan baik, menyampaikan ide dengan jelas, dan membangun kerja sama yang saling menghormati.
Asertivitas Bisa Dilatih
Kabar baiknya, asertivitas bukan bawaan lahir. Keterampilan ini dapat dipelajari dan dilatih. Setelah mengetahui hasil tes, seseorang bisa melakukan berbagai latihan seperti role play, latihan komunikasi interpersonal, dan refleksi diri.
Sebagai contoh, seseorang yang cenderung pasif bisa berlatih untuk mulai mengatakan “tidak” dengan kalimat yang sopan tetapi tegas. Sedangkan individu yang cenderung agresif dapat belajar mengontrol nada bicara dan memilih kata yang lebih empatik.
Kesimpulan
Asertivitas adalah kemampuan penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan orang lain. Melalui Assertiveness Scale, kita bisa memahami pola komunikasi yang selama ini digunakan, lalu memperbaikinya agar lebih sehat dan efektif. Dengan berlatih asertif, kita tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri tetapi juga memperkuat hubungan dengan orang lain, baik di rumah maupun di tempat kerja.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi
Alberti, R. E., & Emmons, M. L. (1970). Your Perfect Right: A Guide to Assertive Living. San Luis Obispo, CA: Impact.
Speed, B. C., Goldstein, B. L., & Goldfried, M. R. (2018). Assertiveness training: A forgotten evidence-based treatment. Clinical Psychology: Science and Practice, 25(1), e12216. https://doi.org/10.1111/cpsp.12216
Salter, A. (2002). Conditioned Reflex Therapy. Piscataway, NJ: Transaction Publishers.