Memuat...
26 November 2025 17:26

Psikologi Humor: Mengapa Tawa Bisa Menjadi Terapi?

Bagikan artikel

Humor merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari lelucon ringan hingga satire yang kompleks. Selain sebagai hiburan, humor ternyata memiliki fungsi psikologis yang signifikan. Tawa yang lahir dari humor tidak hanya membuat suasana hati lebih baik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik dan mental. Bidang psikologi humor menekankan bahwa tawa dapat menjadi salah satu bentuk terapi alami yang membantu individu menghadapi tekanan hidup sehari-hari Martin, 2007.

Secara psikologis, humor dapat berperan sebagai mekanisme koping. Ketika seseorang menghadapi situasi penuh stres, humor memungkinkan individu melihat masalah dari perspektif berbeda. Dengan demikian, masalah terasa lebih ringan dan dapat dihadapi dengan cara yang lebih adaptif. Freud bahkan menyebut humor sebagai salah satu mekanisme pertahanan ego yang sehat karena mampu mereduksi ketegangan emosional tanpa harus menekan perasaan Freud, 1928. Melalui humor, individu dapat menemukan keseimbangan emosional di tengah situasi sulit.

Manfaat humor juga terlihat pada aspek fisiologis. Ketika tertawa, tubuh memproduksi hormon endorfin yang berfungsi sebagai pengurang rasa sakit alami. Selain itu, tawa dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, sekaligus meningkatkan sirkulasi darah serta memperkuat sistem kekebalan tubuh Bennett & Lengacher, 2006. Dengan demikian, tertawa bukan hanya sekadar ekspresi emosi, tetapi juga aktivitas yang berdampak langsung pada kesehatan fisik.

Dalam konteks sosial, humor berperan penting dalam memperkuat hubungan antarindividu. Tawa yang dibagi bersama-sama menciptakan rasa kebersamaan, meningkatkan kepercayaan, dan mempererat ikatan emosional. Di tempat kerja, misalnya, humor yang sehat dapat meningkatkan kepuasan kerja, menurunkan ketegangan antar karyawan, serta membangun suasana yang lebih produktif. Penelitian menyebutkan bahwa pemimpin yang menggunakan humor secara tepat cenderung lebih efektif dalam membangun motivasi dan loyalitas tim Romero & Cruthirds, 2006.

Lebih jauh lagi, humor mulai diintegrasikan dalam intervensi klinis melalui terapi tawa laughter therapy dan humor therapy. Terapi ini digunakan untuk membantu pasien yang mengalami depresi, kecemasan, maupun penyakit kronis. Studi menunjukkan bahwa pasien kanker yang rutin mengikuti sesi terapi tawa melaporkan peningkatan kualitas hidup, pengurangan rasa sakit, serta suasana hati yang lebih positif Mora-Ripoll, 2010. Hal ini membuktikan bahwa humor tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai intervensi psikologis yang valid.

Namun, tidak semua humor bersifat sehat. Ada kalanya humor digunakan secara agresif, sarkastik, atau merendahkan orang lain, yang justru dapat berdampak negatif pada relasi sosial maupun kesehatan mental. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan gaya humor yang lebih adaptif, seperti humor afiliasi (membangun kebersamaan) dan humor self-enhancing (menertawakan diri sendiri dengan cara positif). Kedua gaya humor ini terbukti mendukung kesehatan psikologis yang lebih baik dibandingkan humor agresif atau self-defeating Martin et al., 2003.

Secara keseluruhan, humor adalah salah satu sumber daya psikologis yang sering kali diremehkan. Melalui tawa, individu dapat mengurangi stres, meningkatkan kesehatan, memperkuat hubungan sosial, bahkan mempercepat proses pemulihan dalam kondisi medis tertentu. Oleh karena itu, mengintegrasikan humor ke dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi strategi sederhana namun efektif untuk meningkatkan kesejahteraan. Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.

 

Referensi:

Bennett, M. P., & Lengacher, C. (2006). Humor and laughter may influence health: III. Laughter and health outcomes. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 3(1), 61–66.
Freud, S. (1928). Humor. International Journal of Psychoanalysis, 9, 1–6.
Martin, R. A. (2007). The psychology of humor: An integrative approach. Elsevier Academic Press.
Martin, R. A., Puhlik-Doris, P., Larsen, G., Gray, J., & Weir, K. (2003). Individual differences in uses of humor and their relation to psychological well-being: Development of the Humor Styles Questionnaire. Journal of Research in Personality, 37(1), 48–75.
Mora-Ripoll, R. (2010). The therapeutic value of laughter in medicine. Alternative Therapies in Health and Medicine, 16(6), 56–64.
Romero, E. J., & Cruthirds, K. W. (2006). The use of humor in the workplace. Academy of Management Perspectives, 20(2), 58–69.

Bagikan