Awal Kisah: Upaya Mengenal Diri Lewat Ilmu
Setiap manusia punya caranya sendiri untuk memahami dirinya. Ada yang menulis jurnal tengah malam, ada yang berbicara dengan teman, ada pula yang diam dan merenung. Namun, di dunia psikologi, ada sebuah cara lain lebih sistematis dan lebih mendalam yang mencoba memetakan siapa diri kita sebenarnya. Salah satu alat yang lahir dari pencarian itu adalah Temperament and Character Inventory (TCI), sebuah instrumen psikologis yang berupaya menggambarkan kepribadian manusia bukan hanya dari “bagaimana kita bereaksi”, tapi juga “siapa kita menjadi”.
TCI dikembangkan oleh Cloninger dan rekan-rekannya pada 1990-an sebagai hasil dari evolusi panjang alat sebelumnya, Tridimensional Personality Questionnaire (TPQ). Jika TPQ hanya mengukur tiga dimensi dasar kepribadian, maka TCI memperluasnya menjadi tujuh dimensi, mencakup sisi biologis (temperamen) dan sisi pembentukan sosial serta nilai-nilai hidup (karakter). Dengan kata lain, TCI tidak sekadar bertanya, “Bagaimana kamu bertindak?” melainkan juga “Mengapa kamu menjadi seperti itu?”
Tujuh Warna Kepribadian
Dalam TCI, kepribadian dipandang sebagai harmoni antara dua dunia: temperamen yang diwariskan secara biologis, dan karakter yang dibentuk lewat pengalaman hidup. Empat dimensi temperamen menggambarkan pola dasar emosi dan perilaku seseorang:
-
Novelty Seeking (NS) – dorongan untuk mencari hal baru, tantangan, dan sensasi. Orang dengan skor tinggi biasanya spontan, mudah bosan, dan penuh rasa ingin tahu.
-
Harm Avoidance (HA) – kecenderungan untuk berhati-hati, sensitif terhadap risiko, dan menghindari ketidakpastian.
-
Reward Dependence (RD) – seberapa besar seseorang membutuhkan penghargaan dan hubungan sosial untuk merasa bahagia.
-
Persistence (PS) – ketekunan dan daya tahan dalam menghadapi tantangan.
Sedangkan tiga dimensi karakter menggambarkan kedewasaan psikologis seseorang dalam berinteraksi dengan dunia:
-
Self-Directedness (SD) – kemampuan untuk mengarahkan diri dan bertanggung jawab atas hidup sendiri.
-
Cooperativeness (CO) – kemampuan untuk berempati, bekerja sama, dan peduli pada orang lain.
-
Self-Transcendence (ST) – kapasitas untuk melihat diri sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar, seperti spiritualitas, seni, atau alam.
Gabungan ketujuh dimensi ini menghasilkan “peta jiwa” seseorang. Dalam praktik klinis, peta ini bisa membantu psikolog memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap stres, membangun hubungan, bahkan menghadapi makna hidupnya sendiri.
Dari Laboratorium ke Kehidupan Nyata
TCI bukan sekadar alat tes di ruang terapi. Ia juga jendela untuk memahami dinamika hidup sehari-hari. Misalnya, seseorang dengan Novelty Seeking tinggi mungkin mudah bosan dengan rutinitas pekerjaan dan membutuhkan variasi agar tetap produktif. Sebaliknya, mereka dengan Harm Avoidance tinggi bisa lebih mudah merasa cemas terhadap perubahan, sehingga memerlukan stabilitas dan dukungan emosional.
Dalam konteks kesehatan mental, penelitian menunjukkan bahwa Harm Avoidance sering kali meningkat pada individu dengan depresi atau gangguan kecemasan. Sementara Self-Directedness dan Cooperativeness yang rendah sering ditemukan pada individu dengan gangguan kepribadian. Namun menariknya, ketika terapi berhasil, skor dua dimensi ini cenderung meningkat seolah menunjukkan bahwa karakter bisa tumbuh seiring proses penyembuhan. Lebih dari sekadar diagnosis, TCI membuka percakapan tentang pertumbuhan manusia. Tentang bagaimana kita bisa menjadi lebih sadar, lebih terarah, dan lebih manusiawi.
Dari Masa ke Masa: Bagaimana Kepribadian Berubah
Penelitian lintas usia menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, skor Novelty Seeking dan Self-Transcendence cenderung menurun, sedangkan Self-Directedness dan Cooperativeness meningkat. Artinya, manusia secara alami menjadi lebih bijak, lebih stabil, dan lebih peduli pada sesama seiring waktu. Dalam konteks ini, TCI membantu menjelaskan mengapa remaja sering kali impulsif dan suka bereksperimen, sedangkan orang dewasa lebih reflektif dan bertanggung jawab. Bukan karena perubahan drastis dalam kepribadian, melainkan karena proses alami perkembangan karakter.
Lebih dari Sekadar Tes: Sebuah Cermin Jiwa
TCI mungkin terlihat seperti sekumpulan pertanyaan di atas kertas. Namun di baliknya, tersimpan filosofi mendalam: kepribadian bukanlah label, melainkan proses menjadi diri sendiri. Cloninger percaya bahwa kepribadian yang sehat bukan berarti tanpa kekurangan, tetapi ketika seseorang mampu menerima dirinya sepenuhnya sadar akan temperamennya, dan berupaya menumbuhkan karakternya. Di dunia yang serba cepat ini, memahami diri lewat TCI bisa menjadi bentuk refleksi: Apakah aku menjalani hidup dengan arah yang aku pilih sendiri? Apakah aku cukup terbuka pada orang lain? Apakah aku masih merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diriku? Pertanyaan-pertanyaan itu, pada akhirnya, bukan hanya milik psikologi tetapi milik setiap manusia yang sedang belajar mengenal dirinya.
Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya, serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.
Referensi
Basiaux, P. “TEMPERAMENT and CHARACTER INVENTORY (TCI) PERSONALITY PROFILE and SUB-TYPING in ALCOHOLIC PATIENTS: A CONTROLLED STUDY.” Alcohol and Alcoholism, vol. 36, no. 6, 1 Nov. 2001, pp. 584–587, https://doi.org/10.1093/alcalc/36.6.584.
Hansenne, Michel, et al. “Temperament and Character Inventory (TCI) and Depression.” Journal of Psychiatric Research, vol. 33, no. 1, Jan. 1999, pp. 31–36, https://doi.org/10.1016/s0022-3956(98)00036-3.