Generasi Z tumbuh sebagai generasi paling melek digital sepanjang sejarah. Mereka cepat memahami teknologi baru, adaptif terhadap perubahan, dan terbiasa belajar secara mandiri melalui berbagai platform digital. Secara psikologis, digital fluency dan kemampuan adaptive learning Gen Z terbentuk dari paparan teknologi sejak dini yang melatih otak untuk cepat memindai informasi, berpindah konteks, dan belajar sesuai kebutuhan. Pola ini membuat Gen Z unggul dalam lingkungan kerja yang dinamis, tetapi kurang melatih sustained attention dan ketekunan jangka panjang. Dalam konteks attention economy dan cognitive load, banjir stimulus digital meningkatkan beban kognitif dan menguras kapasitas fokus. Akibatnya, distraksi menjadi mudah terjadi, kelelahan mental meningkat, tidak jarang pekerjaan jadi sering berkejar-kejaran dengan tenggat waktu, serta konsistensi dalam bekerja maupun mengejar tujuan hidup jangka panjang menjadi lebih sulit dipertahankan.
Karakteristik ini dibentuk oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal, banyak Gen Z memiliki kebutuhan tinggi terhadap stimulasi dan masih mengembangkan kemampuan self-regulation seperti mengatur fokus, impuls, dan emosi saat menghadapi kebosanan atau tekanan. Dari sisi eksternal, lingkungan digital yang sarat notifikasi, tuntutan multitasking, serta ekspektasi respons cepat memperkuat kebiasaan berpindah atensi. Jika tidak disadari, distraksi berubah dari gangguan sesekali menjadi pola kerja kronis yang menguras energi mental.
Untuk mengurangi kecenderungan mudah terdistraksi dan kelelahan mental, pendekatan yang terbukti efektif bukanlah menghindari teknologi, melainkan melatih kendali atensi secara sistematis. Penelitian menunjukkan bahwa single-tasking lebih efisien dibanding multitasking; untuk tugas-tugas tertentu kita dapat menggunakan teknik Pomodoro yang memfokuskan pikiran pada satu tugas utama dalam waktu singkat (misalnya 25–40 menit) lalu diselingi micro-breaks sehingga dapat menjaga energi mental dan kualitas kerja. Mindfulness dan attention training juga dapat dilakukan, yaitu dengan melatih kesadaran fokus 10–15 menit per hari, hal ini terbukti memperkuat kontrol perhatian dan menurunkan mind-wandering. Selain itu, pengaturan lingkungan kerja seperti mematikan notifikasi saat sesi fokus, membatasi tab digital, serta menetapkan waktu khusus untuk komunikasi membantu menurunkan beban kognitif. Ketika distraksi dipicu oleh stres dan kelelahan emosional, pendekatan psikologis seperti CBT dan konseling berbasis regulasi diri dapat mencegah burnout dan menjaga fokus jangka panjang.
Dalam hal ini, Biro Psikologi Indonesia hadir untuk memberikan layanan-layanan khususnya konseling untuk membantu Gen Z sehingga tidak hanya unggul secara digital dan adaptif, tetapi juga dapat mengenali & meregulasi diri, melatih fokus, mengelola energi mental, dan mencapai tujuan jangka panjang secara lebih konsisten.
Apabila kalian tertarik untuk mempelajari lebih lanjut terkait pembahasan kita kali ini, berikut adalah sumber-sumber yang dapat kalian baca. Mari peroleh informasi baru yang berguna bagi perkembangan diri kita sendiri & sekeliling kita. Selamat membaca dan turn-off dulu notifikasi HP kalian, agar tidak mudah terdistraksi.
Daftar Pustaka
Kartika, L. A., Gularso, K., & Pangaribuan, C. H. (2025). The influence of digital fatigue and occupational stress on quiet quitting in Generation Y and Z. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 4(2), 215–229.
Maharani, L. (2024). Analisis disiplin kerja pada pekerja Generasi Z. PENG: Jurnal Ekonomi dan Manajemen, 3(1), 45–58.
Rosen, L. D., Lim, A. F., Smith, J., & Smith, J. (2011). The distracted student: Effects of multitasking on learning. Educational Psychology, 31(3), 349–360. https://doi.org/10.1080/01443410.2011.562092
Smallwood, J., & Schooler, J. W. (2015). The science of mind wandering: Empirically navigating the stream of consciousness. Annual Review of Psychology, 66, 487–518. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010814-015331
Sunaryanto, I. K., & Idrus, O. (2025). Karakteristik Generasi Z dan dampak terhadap produktivitas kerja di Indonesia. Jurnal Sains dan Teknologi, 9(1), 88–98.
Teaching the digital natives: Examining the learning needs and preferences of Gen Z learners in higher education. (2025). International Journal of Higher Education Studies, 15(2), 101–115.
van der Schuur, W. A., Baumgartner, S. E., Sumter, S. R., & Valkenburg, P. M. (2015). Media multitasking and attention problems in adolescents: A longitudinal study. Computers in Human Behavior, 49, 79–85. https://doi.org/10.1016/j.chb.2015.02.008