Pasca pandemi COVID-19, pola kerja di seluruh dunia mengalami perubahan besar. Perpindahan mendadak ke sistem kerja jarak jauh, ketidakpastian ekonomi, hingga tuntutan adaptasi teknologi menciptakan tekanan yang berbeda dari sebelumnya. Bagi sebagian karyawan, transisi kembali ke model kerja hybrid atau on-site setelah pandemi justru memunculkan masalah baru: kelelahan mental yang kronis. Fenomena ini dikenal sebagai burnout, sebuah kondisi yang tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga kesehatan mental dan fisik. Untuk mengidentifikasi masalah ini secara akurat, banyak perusahaan kini mengadopsi Burnout Assessment Test sebagai bagian dari strategi manajemen SDM mereka.
Burnout Pasca-Pandemi: Lebih dari Sekadar Lelah
Burnout tidak sama dengan kelelahan biasa. Menurut definisi World Health Organization (WHO), burnout adalah sindrom yang dihasilkan dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil diatasi, ditandai dengan tiga dimensi utama: kelelahan emosional, depersonalisasi (atau sikap sinis terhadap pekerjaan), dan penurunan rasa pencapaian pribadi (WHO, 2019). Pasca-pandemi, ketiga dimensi ini semakin sering muncul akibat faktor seperti ketidakpastian kerja, isolasi sosial, serta ketidakseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan akibat fleksibilitas kerja yang tidak terkelola dengan baik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Microsoft Work Trend Index (2022) menunjukkan bahwa 48% karyawan global dan 54% manajer melaporkan mengalami burnout. Menariknya, beban kerja yang berlebihan bukan satu-satunya pemicu kurangnya dukungan emosional, lingkungan kerja juga menjadi faktor penting.
Peran Burnout Assessment Test
Burnout Assessment Test (BAT) adalah alat ukur psikometrik yang dirancang untuk mengidentifikasi tingkat kelelahan kerja pada individu. Tes ini umumnya mengukur empat dimensi utama: kelelahan, jarak mental (mental distance), gangguan kognitif, dan gangguan emosional (Schaufeli et al., 2020). Dengan mengukur keempat aspek ini, BAT membantu organisasi memahami sumber masalah dan merancang intervensi yang sesuai. BAT dapat diadministrasikan secara daring maupun luring, sehingga memudahkan HR untuk menggunakannya pada berbagai skenario kerja, termasuk pada karyawan yang bekerja jarak jauh. Hasil tes bukan hanya membantu mengidentifikasi individu yang berada pada risiko tinggi, tetapi juga memberikan gambaran tren burnout secara keseluruhan di organisasi.
Implementasi di Lingkungan Kerja Pasca-Pandemi
Menggunakan Burnout Assessment Test bukan sekadar soal pengukuran, tetapi juga tentang bagaimana hasilnya ditindaklanjuti. Perusahaan yang berhasil mengintegrasikan tes ini biasanya melakukan tiga langkah strategis:
-
Sosialisasi dan Edukasi – Memberikan pemahaman kepada karyawan bahwa tes ini bukan untuk “menilai” mereka, melainkan untuk mendeteksi risiko dan memberikan dukungan.
-
Analisis Hasil Secara Agregat – Menggunakan data secara anonim untuk memahami tren organisasi tanpa mengorbankan privasi individu.
-
Intervensi Tepat Sasaran – Menyediakan konseling, pelatihan manajemen stres, atau menyesuaikan beban kerja berdasarkan temuan.
Contoh nyata dapat dilihat dari perusahaan teknologi multinasional yang melakukan BAT setiap kuartal pasca-pandemi. Hasil tes menunjukkan bahwa departemen layanan pelanggan memiliki skor burnout tertinggi. Berdasarkan temuan ini, perusahaan menambah jumlah staf di divisi tersebut, memberikan cuti tambahan, dan mengadakan program mindfulness mingguan. Dalam enam bulan, tingkat burnout turun 30%, dan kepuasan kerja meningkat signifikan.
Tantangan dan Pertimbangan Etis
Meskipun bermanfaat, penerapan BAT juga menghadapi tantangan. Salah satunya adalah resistensi karyawan yang khawatir hasil tes akan memengaruhi penilaian kinerja mereka. Di sinilah pentingnya kebijakan privasi dan komunikasi yang transparan. Selain itu, HR harus memastikan bahwa hasil tes digunakan untuk mendukung, bukan menghukum. Burnout Assessment Test juga tidak bisa berdiri sendiri. Tes ini harus menjadi bagian dari strategi kesejahteraan karyawan yang lebih luas, termasuk kebijakan jam kerja fleksibel, dukungan kesehatan mental, dan budaya kerja yang sehat. Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.
Referensi
Microsoft. (2022). 2022 Work Trend Index: Annual report. Retrieved from https://www.microsoft.com/en-us/worklab/work-trend-index
Schaufeli, W. B., De Witte, H., & Desart, S. (2020). Manual Burnout Assessment Tool (BAT). KU Leuven.
World Health Organization. (2019). Burn-out an "occupational phenomenon": International Classification of Diseases. Retrieved from https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon