Memuat...
12 January 2026 16:10

Bagaimana Tes Regulasi Emosi Membantu Anak Mengelola Marah dan Takut

Bagikan artikel

Anak-anak sering kali mengalami berbagai emosi yang kuat, seperti marah, sedih, atau takut. Namun, tidak semua anak mampu mengenali dan mengelola perasaan tersebut dengan baik. Ketika emosi tidak terkontrol, anak dapat menjadi mudah tantrum, menarik diri, atau kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya. Salah satu cara untuk memahami kemampuan anak dalam mengelola emosi adalah melalui tes regulasi emosi, yaitu alat asesmen psikologis yang dirancang untuk menilai sejauh mana anak mampu mengenali, mengendalikan, dan mengekspresikan emosinya secara sehat.

 

Apa Itu Tes Regulasi Emosi

Tes regulasi emosi merupakan alat ukur psikologis yang membantu menilai bagaimana seseorang, khususnya anak-anak, memahami dan mengelola perasaan mereka dalam berbagai situasi. Tes ini biasanya menilai kemampuan anak dalam beberapa aspek penting, seperti:

  1. Kesadaran emosi: kemampuan anak untuk mengenali apa yang sedang ia rasakan, seperti marah, takut, atau sedih.

  2. Pengendalian emosi: kemampuan untuk menenangkan diri ketika marah atau cemas.

  3. Ekspresi emosi yang sesuai: sejauh mana anak mampu mengekspresikan perasaan tanpa melukai diri sendiri atau orang lain.

Menurut Gross (2015) dalam teorinya tentang Emotion Regulation Process Model, pengelolaan emosi melibatkan proses mengenali perasaan, menilai situasi, dan memilih respons yang sesuai. Pada anak, kemampuan ini masih berkembang dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga serta pengalaman sosial sehari-hari.

 

Mengapa Regulasi Emosi Penting bagi Anak

Kemampuan regulasi emosi menjadi dasar bagi perkembangan sosial dan akademik anak. Anak yang mampu mengelola emosi dengan baik cenderung lebih mudah beradaptasi, memiliki hubungan sosial yang positif, serta lebih fokus dalam belajar.

Sebaliknya, anak yang kesulitan mengatur emosi sering kali menunjukkan perilaku impulsif, seperti berteriak saat marah, memukul, atau menolak berbicara saat sedih. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi.

Penelitian oleh Eisenberg, Spinrad, dan Eggum (2010) menunjukkan bahwa anak dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki keterampilan sosial yang lebih tinggi, tingkat agresivitas lebih rendah, dan prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan anak yang kesulitan mengendalikan emosinya.

 

Bagaimana Tes Regulasi Emosi Dilakukan

Tes regulasi emosi dapat dilakukan oleh psikolog anak di sekolah, lembaga psikologi, atau klinik perkembangan anak. Prosesnya biasanya melibatkan:

  1. Observasi perilaku anak, seperti bagaimana anak bereaksi saat kecewa atau ditegur.

  2. Kuesioner atau skala penilaian, yang diisi oleh orang tua dan guru untuk menilai kebiasaan anak dalam menghadapi situasi emosional tertentu.

  3. Sesi wawancara atau permainan, yang membantu psikolog memahami bagaimana anak mengekspresikan perasaannya dalam konteks yang lebih alami.

Beberapa alat ukur yang umum digunakan untuk menilai regulasi emosi antara lain Emotion Regulation Checklist (ERC) yang dikembangkan oleh Shields dan Cicchetti (1997), serta Difficulties in Emotion Regulation Scale (DERS) yang dikembangkan oleh Gratz dan Roemer (2004).

Melalui hasil tes ini, psikolog dapat mengidentifikasi apakah anak memiliki kesulitan tertentu, seperti mudah marah, sulit menenangkan diri, atau cenderung menahan emosi berlebihan, sehingga intervensi yang tepat bisa diberikan.

 

Membantu Anak Mengelola Marah dan Takut

Setelah hasil tes diperoleh, psikolog dapat membantu anak mengembangkan strategi pengelolaan emosi yang sehat, terutama dalam menghadapi rasa marah dan takut. Beberapa pendekatan yang umum dilakukan antara lain:

  1. Latihan kesadaran emosi (emotional awareness training)
    Anak diajak untuk mengenali dan memberi nama pada setiap perasaan yang muncul, misalnya “Aku sedang marah karena mainanku diambil.” Dengan mengenali emosi, anak belajar memahami bahwa marah adalah perasaan yang normal, namun perlu disalurkan dengan cara yang baik.

  2. Teknik relaksasi dan pernapasan
    Anak diajarkan cara menenangkan diri, misalnya menarik napas dalam, menghitung sampai lima, atau memeluk benda lembut saat merasa takut. Hal ini membantu menurunkan reaksi fisik akibat stres.

  3. Permainan ekspresif atau terapi bermain
    Anak dapat menyalurkan emosi melalui menggambar, bermain peran, atau menceritakan ulang perasaan lewat boneka. Kegiatan ini efektif membantu anak mengekspresikan kemarahan dan ketakutan tanpa perilaku agresif.

  4. Pendekatan kognitif-perilaku (Cognitive-Behavioral Approach)
    Terapis membantu anak memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Misalnya, ketika anak merasa takut gelap, terapis membantu anak menantang pikiran negatif dan mencari cara menghadapinya secara bertahap.

Dengan dukungan yang konsisten dari orang tua, guru, dan psikolog, anak dapat belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus ditekan, melainkan dipahami dan diarahkan dengan bijak.

 

Peran Orang Tua dalam Pengembangan Regulasi Emosi

Orang tua memegang peran penting dalam membentuk kemampuan regulasi emosi anak. Sikap orang tua yang hangat, sabar, dan mampu menjadi model dalam mengelola emosi dapat membantu anak belajar melalui contoh nyata.

Misalnya, ketika anak marah, orang tua tidak langsung memarahi, tetapi menenangkan dan membantu anak mengenali perasaannya. Tindakan seperti ini membantu anak memahami bahwa emosi boleh dirasakan, tetapi harus diatur dengan cara yang tepat.

Selain itu, menjaga rutinitas harian yang konsisten, memberikan ruang aman untuk berbicara, serta memberi pujian saat anak berhasil mengendalikan diri juga menjadi bagian penting dari pembelajaran emosional.




Kesimpulan

Tes regulasi emosi memberikan gambaran yang berharga tentang bagaimana anak memahami dan mengelola perasaan mereka. Hasil tes dapat menjadi dasar untuk menyusun strategi pendampingan yang sesuai, baik di rumah maupun di sekolah. Dengan mengenali pola emosi anak, orang tua dan tenaga profesional dapat membantu anak mengelola marah dan takut secara lebih sehat, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, empatik, dan mampu menghadapi tantangan emosional di masa depan.

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan layanan psikotes karier yang dapat membantu individu menemukan potensi diri dan bidang pekerjaan yang sesuai. Dengan pendekatan ilmiah dan hasil yang terpercaya, proses perencanaan karier dapat menjadi lebih terarah dan bermakna.

 

 

Referensi:

Eisenberg, N., Spinrad, T. L., & Eggum, N. D. (2010). Emotion-related self-regulation and its relation to children's maladjustment. Annual Review of Clinical Psychology, 6, 495–525. https://doi.org/10.1146/annurev.clinpsy.121208.131208

Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781


Shields, A., & Cicchetti, D. (1997). Emotion regulation among school-age children: The development and validation of a new criterion Q-sort scale. Developmental Psychology, 33(6), 906–916. https://doi.org/10.1037/0012-1649.33.6.906


Gratz, K. L., & Roemer, L. (2004). Multidimensional assessment of emotion regulation and dysregulation: Development, factor structure, and initial validation of the difficulties in emotion regulation scale. Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 26(1), 41–54. https://doi.org/10.1023/B:JOBA.0000007455.08539.94

Bagikan